Tingkeban — dikenal juga sebagai mitoni — adalah selamatan yang digelar saat usia kehamilan menginjak tujuh bulan. Nama mitoni berasal dari kata Jawa "pitu" yang berarti tujuh, dan tradisi ini umumnya dilakukan untuk kehamilan anak pertama.
Inti tingkeban adalah memohon keselamatan bagi ibu dan calon bayi menjelang persalinan. Menurut catatan budaya Jawa, tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun sejak masa kerajaan lama, dan di masa penyebaran Islam diisi dengan pembacaan doa, sholawat, serta ayat-ayat Al-Quran.
Angka tujuh menjadi benang merah hampir seluruh prosesi — tujuh bulan, tujuh kain, tujuh macam buah. Dalam bahasa Jawa "pitu" sering dikaitkan dengan "pitulungan" yang berarti pertolongan, sehingga rangkaian ini dimaknai sebagai permohonan pertolongan kepada Tuhan.
Tingkeban termasuk tradisi budaya (adat), bukan ibadah yang diperintahkan syariat. Karena itu hukumnya tidak wajib, dan tidak berdosa bagi yang tidak melaksanakannya.
Para ulama Nusantara umumnya membolehkan tradisi ini selama isinya diarahkan pada doa dan sedekah kepada Allah, serta tidak disertai keyakinan bahwa benda-benda simbolis itu sendiri yang menolak bala. Yang perlu dijaga adalah niatnya: memohon keselamatan hanya kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Sisi sedekah dan silaturahminya justru bernilai kebaikan.
Setelah bayi lahir, masyarakat Jawa umumnya melanjutkan dengan aqiqah dan selapanan pada hari ke-35. Perhitungan weton kelahirannya bisa dicek lewat Kalkulator Weton di aplikasi ini.
Tidak wajib. Tingkeban adalah tradisi budaya Jawa, bukan ritual yang diperintahkan syariat. Yang dianjurkan dalam Islam adalah memperbanyak doa keselamatan bagi ibu dan janin, serta bersedekah.
Dalam praktik yang lazim di masyarakat Jawa, tingkeban memang dititikberatkan pada kehamilan anak pertama sebagai penanda peralihan peran menjadi orang tua. Namun ini soal kebiasaan setempat, bukan aturan baku, sehingga sebagian keluarga tetap menggelarnya pada kehamilan berikutnya.
Boleh sekali. Banyak keluarga kini menyederhanakannya menjadi pengajian, pembacaan doa dan sholawat, lalu makan bersama tetangga. Inti yang dijaga adalah doa dan sedekahnya, bukan kelengkapan prosesinya.