Tradisi Nyadran dan Ruwahan Menjelang Ramadhan

Tradisi · 2026-09-01
Tradisi Nyadran dan Ruwahan Menjelang Ramadhan
Foto: Rendy Novantino (Unsplash)

Menjelang Ramadhan, banyak desa di Jawa menggelar nyadran atau ruwahan — rangkaian ziarah kubur, doa bersama, dan kenduri yang melibatkan hampir seluruh warga. Tradisi ini menjadi penanda bahwa bulan puasa segera tiba.

Asal Nama

Istilah ruwahan berasal dari nama bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa, yang sejajar dengan bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah — bulan tepat sebelum Ramadhan. Adapun nyadran dikaitkan dengan kata sraddha, istilah lama untuk upacara penghormatan kepada leluhur.

Perpaduan nama ini mencerminkan sejarahnya: tradisi penghormatan leluhur yang sudah ada sebelumnya, kemudian diisi ulang oleh para penyebar Islam di Jawa dengan pembacaan Al-Qur’an, tahlil, dan doa kepada Allah. Pola dakwah semacam ini juga tampak pada sedekah bumi dan sekaten.

Rangkaian Acara

  1. Besik — membersihkan area makam keluarga bersama-sama, memotong rumput dan merapikan nisan.
  2. Ziarah dan tahlil — berziarah ke makam leluhur, membaca surat Yasin, tahlil, dan mendoakan yang telah wafat.
  3. Kenduri — berkumpul di masjid, mushola, atau rumah warga, membaca doa bersama, lalu menyantap hidangan yang dibawa masing-masing keluarga.
  4. Saling berkunjung — bersilaturahmi dan bermaaf-maafan sebelum memasuki Ramadhan.

Hidangan yang lazim disajikan antara lain nasi tumpeng, ingkung ayam, apem, ketan, dan kolak. Ketiga penganan terakhir kerap dimaknai sebagai simbol permohonan ampun dan kemantapan hati menyongsong puasa.

Makna Sosialnya

Di luar sisi ritualnya, nyadran berperan besar secara sosial. Ia menjadi alasan perantau pulang kampung, mempertemukan kembali keluarga besar, dan menghidupkan gotong royong warga sedesa. Bagi banyak orang, inilah momen berkumpul terbesar setelah Idulfitri.

Tinjauan Syar’i

Nyadran berstatus adat, bukan ibadah yang diwajibkan. Ulama Nusantara umumnya membolehkannya karena isinya terdiri atas amalan yang jelas kebaikannya: ziarah kubur yang memang dianjurkan agar mengingat kematian, mendoakan orang tua yang telah wafat, sedekah makanan, dan mempererat silaturahmi.

Yang perlu dijaga adalah agar praktiknya tidak bergeser ke arah yang keliru:

Adab ziarah kubur selengkapnya dibahas di artikel adab dan makna ziarah kubur.

Kaitan dengan Megengan

Di sebagian daerah, rangkaian menyambut Ramadhan disebut megengan. Penamaan dan detail acaranya berbeda antardaerah, namun semangatnya sama: membersihkan diri, memaafkan, dan bersiap memasuki bulan puasa.

Tanya Jawab

Apakah nyadran wajib dilakukan?

Tidak. Nyadran berstatus tradisi budaya, bukan ibadah wajib. Tidak melaksanakannya tidak berdosa, dan tidak akan mendatangkan celaka sebagaimana yang kadang diyakini sebagian orang.

Bolehkah membawa makanan ke makam saat nyadran?

Membawa makanan untuk dimakan bersama peziarah dibolehkan. Yang perlu dihindari adalah meletakkan makanan sebagai sesaji dengan keyakinan dipersembahkan kepada penghuni kubur, sebab yang berhak menerima persembahan hanyalah Allah.

Apakah doa kita sampai kepada yang telah meninggal?

Mayoritas ulama, termasuk dalam madzhab Syafi’i, berpendapat bahwa doa dan sedekah dari orang yang hidup bermanfaat bagi yang telah wafat. Inilah dasar tradisi mendoakan almarhum dalam tahlil maupun nyadran.