Tedak siten — dari kata tedak yang berarti turun dan siten dari siti yang berarti tanah — adalah upacara adat Jawa menandai saat bayi pertama kali diperkenalkan menapak tanah. Dalam bahasa Indonesia, tradisi ini biasa disebut turun tanah.
Tedak siten umumnya dilakukan ketika bayi berusia tujuh selapan, yaitu sekitar 245 hari atau kurang lebih delapan bulan. Satu selapan sendiri berjumlah 35 hari, hasil perkalian tujuh hari sepekan dengan lima hari pasaran Jawa — perhitungan yang sama dipakai dalam selapanan bayi.
Pada usia tersebut, bayi umumnya mulai belajar berdiri dan merambat, sehingga momennya dipandang tepat sebagai penanda tahap baru pertumbuhan.
Tedak siten berstatus adat, bukan ibadah yang disyariatkan. Ulama Nusantara umumnya membolehkannya karena intinya berupa syukur atas pertumbuhan anak, doa untuk masa depannya, sedekah kepada tetangga, dan mempererat silaturahmi — semuanya bernilai kebaikan.
Yang perlu dijaga:
Tedak siten adalah satu mata rantai dari rangkaian tradisi seputar anak: dimulai dari tingkeban atau mitoni saat kehamilan tujuh bulan, dilanjutkan selapanan pada hari ke-35, lalu tedak siten pada usia sekitar delapan bulan. Adapun aqiqah berdiri sendiri sebagai ibadah yang disyariatkan pada hari ketujuh kelahiran.
Weton kelahiran anak yang menjadi dasar perhitungan hari dalam tradisi ini dapat dihitung lewat menu Kalkulator Weton di aplikasi ini.
Tidak. Bagian itu bersifat simbolik dan sekadar harapan orang tua. Masa depan anak ditentukan Allah disertai ikhtiar pendidikan dan pembiasaan sejak dini, bukan oleh benda yang kebetulan diraih saat bayi.
Tidak. Statusnya tradisi budaya, bukan ibadah. Keluarga yang tidak menggelarnya tidak berdosa dan tidak akan tertimpa keburukan apa pun.
Waktunya berbeda: aqiqah disunnahkan pada hari ketujuh kelahiran, sedangkan tedak siten pada usia sekitar delapan bulan. Bila aqiqah belum sempat ditunaikan, penggabungan acaranya dibolehkan demi kepraktisan.