Tradisi Tedak Siten (Turun Tanah) dalam Adat Jawa

Tradisi · 2026-09-01
Tradisi Tedak Siten (Turun Tanah) dalam Adat Jawa
Foto: Kevin Yudhistira Alloni (Unsplash)

Tedak siten — dari kata tedak yang berarti turun dan siten dari siti yang berarti tanah — adalah upacara adat Jawa menandai saat bayi pertama kali diperkenalkan menapak tanah. Dalam bahasa Indonesia, tradisi ini biasa disebut turun tanah.

Kapan Digelar

Tedak siten umumnya dilakukan ketika bayi berusia tujuh selapan, yaitu sekitar 245 hari atau kurang lebih delapan bulan. Satu selapan sendiri berjumlah 35 hari, hasil perkalian tujuh hari sepekan dengan lima hari pasaran Jawa — perhitungan yang sama dipakai dalam selapanan bayi.

Pada usia tersebut, bayi umumnya mulai belajar berdiri dan merambat, sehingga momennya dipandang tepat sebagai penanda tahap baru pertumbuhan.

Rangkaian Prosesi

  1. Menapak jadah tujuh warna. Bayi dituntun melangkah di atas tujuh jadah (ketan) berwarna berbeda, ditata dari warna gelap ke terang. Dimaknai sebagai gambaran perjalanan hidup yang berliku, dengan harapan anak sanggup melaluinya.
  2. Menaiki tangga tebu. Bayi dituntun menaiki tangga yang dibuat dari batang tebu jenis arjuna. Tebu dalam falsafah Jawa dimaknai sebagai singkatan antebing kalbu, yakni kemantapan hati.
  3. Masuk kurungan ayam. Bayi diletakkan dalam kurungan yang telah dihias, berisi aneka benda seperti buku, alat tulis, uang, cermin, atau perhiasan. Benda yang lebih dulu diambil dipandang sebagai isyarat kecenderungan minat anak kelak.
  4. Sebar udhik-udhik. Orang tua menyebar beras kuning bercampur uang logam yang lalu diperebutkan anak-anak, sebagai simbol harapan agar anak kelak murah hati dan gemar berbagi.
  5. Siraman. Bayi dimandikan dengan air kembang setaman, dimaknai sebagai harapan agar hidupnya membawa nama harum.
  6. Doa dan kenduri. Ditutup dengan doa bersama serta jamuan bagi tetangga dan kerabat.

Tinjauan Syar’i

Tedak siten berstatus adat, bukan ibadah yang disyariatkan. Ulama Nusantara umumnya membolehkannya karena intinya berupa syukur atas pertumbuhan anak, doa untuk masa depannya, sedekah kepada tetangga, dan mempererat silaturahmi — semuanya bernilai kebaikan.

Yang perlu dijaga:

Rangkaian Tradisi Anak dalam Adat Jawa

Tedak siten adalah satu mata rantai dari rangkaian tradisi seputar anak: dimulai dari tingkeban atau mitoni saat kehamilan tujuh bulan, dilanjutkan selapanan pada hari ke-35, lalu tedak siten pada usia sekitar delapan bulan. Adapun aqiqah berdiri sendiri sebagai ibadah yang disyariatkan pada hari ketujuh kelahiran.

Weton kelahiran anak yang menjadi dasar perhitungan hari dalam tradisi ini dapat dihitung lewat menu Kalkulator Weton di aplikasi ini.

Tanya Jawab

Apakah benda yang diambil anak menentukan profesinya kelak?

Tidak. Bagian itu bersifat simbolik dan sekadar harapan orang tua. Masa depan anak ditentukan Allah disertai ikhtiar pendidikan dan pembiasaan sejak dini, bukan oleh benda yang kebetulan diraih saat bayi.

Apakah tedak siten wajib dilakukan?

Tidak. Statusnya tradisi budaya, bukan ibadah. Keluarga yang tidak menggelarnya tidak berdosa dan tidak akan tertimpa keburukan apa pun.

Bolehkah tedak siten digabung dengan aqiqah?

Waktunya berbeda: aqiqah disunnahkan pada hari ketujuh kelahiran, sedangkan tedak siten pada usia sekitar delapan bulan. Bila aqiqah belum sempat ditunaikan, penggabungan acaranya dibolehkan demi kepraktisan.