Tradisi Grebeg Maulud di Yogyakarta dan Surakarta

Tradisi · 2026-04-12
Tradisi Grebeg Maulud di Yogyakarta dan Surakarta

Grebeg Maulud adalah tradisi perayaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ yang diselenggarakan turun-temurun oleh keraton Yogyakarta dan Surakarta (Solo), memadukan syiar Islam dengan kearifan budaya Jawa. Tradisi ini menjadi salah satu contoh bagaimana Islam di Nusantara berkembang harmonis berdampingan dengan budaya lokal.

Sejarah Grebeg Maulud

Tradisi Grebeg diyakini sudah ada sejak masa Kesultanan Mataram Islam, dilanjutkan oleh Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta hingga saat ini. Grebeg dilaksanakan tiga kali dalam setahun — Grebeg Syawal (menyambut Idulfitri), Grebeg Besar (menyambut Iduladha), dan Grebeg Maulud yang paling meriah, diselenggarakan untuk memperingati kelahiran Rasulullah ﷺ pada bulan Rabiul Awal.

Gunungan sebagai Simbol Utama

Puncak acara Grebeg Maulud adalah arak-arakan gunungan — tumpukan hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan, dan makanan yang disusun menyerupai gunung, diarak dari keraton menuju masjid agung. Gunungan ini melambangkan kemakmuran dan wujud syukur atas rahmat Allah, sekaligus menjadi simbol kedermawanan raja kepada rakyatnya. Setibanya di masjid, gunungan didoakan lalu dibagikan kepada masyarakat yang berebut mengambil bagian, dengan keyakinan turun-temurun bahwa memperoleh bagian dari gunungan membawa keberkahan.

Sekaten sebagai Rangkaian Acara

Grebeg Maulud biasanya menjadi puncak dari rangkaian perayaan yang lebih panjang bernama Sekaten, yang berlangsung sepekan sebelumnya, diisi dengan bunyi gamelan pusaka dan berbagai kegiatan syiar Islam lainnya di sekitar alun-alun keraton.

Nilai Dakwah dalam Tradisi Ini

Para Wali Songo, khususnya di tanah Jawa, dikenal bijak memasukkan nilai-nilai Islam lewat medium budaya yang sudah akrab dengan masyarakat setempat, alih-alih menghapusnya secara frontal. Grebeg Maulud menjadi salah satu warisan pendekatan dakwah kultural tersebut — memperingati kelahiran Nabi ﷺ sekaligus melestarikan kearifan lokal, mengajarkan syukur dan kedermawanan lewat simbol yang mudah dipahami masyarakat awam pada masanya.

Grebeg Maulud di Masa Kini

Hingga kini, Grebeg Maulud tetap dilestarikan sebagai warisan budaya sekaligus daya tarik wisata religi di Yogyakarta dan Surakarta, dihadiri ribuan masyarakat setiap tahunnya. Meski bentuk perayaannya berakar dari tradisi keraton, esensi yang ingin disampaikan tetap sama: memperingati kelahiran Rasulullah ﷺ dengan penuh syukur, kegembiraan, dan semangat berbagi kepada sesama.

Tanya Jawab

Apakah Grebeg Maulud hanya dirayakan di Yogyakarta dan Surakarta?

Tradisi Grebeg dengan gunungan memang khas kedua keraton tersebut, namun peringatan Maulid Nabi secara umum dirayakan di berbagai daerah di Indonesia dengan bentuk yang beragam, seperti pembacaan sholawat dan kisah kelahiran Nabi ﷺ.

Apa makna rebutan gunungan bagi masyarakat?

Masyarakat meyakini memperoleh bagian dari gunungan membawa keberkahan (ngalap berkah), sebagai simbol harapan atas rahmat dan kemakmuran yang didoakan bersama dalam rangkaian perayaan Maulid Nabi.