Sholat Gerhana adalah sholat sunnah muakkad yang dikerjakan ketika terjadi gerhana matahari (disebut Sholat Kusuf) atau gerhana bulan (disebut Sholat Khusuf). Sholat ini unik karena tata caranya berbeda dari sholat pada umumnya — setiap rakaat memiliki dua kali rukuk dan dua kali berdiri membaca surat.
Rasulullah ﷺ mengerjakan Sholat Gerhana bersama para sahabat saat terjadi gerhana matahari di masa hidupnya, sebagaimana diriwayatkan Aisyah RA (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau menjelaskan bahwa gerhana adalah tanda kekuasaan Allah, bukan pertanda kematian atau kelahiran seseorang seperti kepercayaan masyarakat Arab jahiliyah saat itu — karenanya umat dianjurkan segera sholat, berdoa, dan bersedekah ketika gerhana terjadi.
Sholat Gerhana dikerjakan sejak gerhana mulai terjadi hingga selesai atau matahari/bulan kembali normal. Karena durasi gerhana terbatas, sholat ini dianjurkan dikerjakan segera begitu diketahui, tanpa menunggu pengumuman resmi jika sudah terlihat jelas oleh mata.
Berbeda dari sholat sunnah pada umumnya, setiap rakaat Sholat Gerhana memiliki dua kali berdiri (qiyam) dan dua kali rukuk:
Setelah salam, imam dianjurkan menyampaikan khutbah singkat mengingatkan jamaah akan kebesaran Allah dan menganjurkan perbanyak istighfar, sedekah, dan doa — sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ.
Secara bahasa, Kusuf merujuk pada gerhana matahari dan Khusuf pada gerhana bulan, meski keduanya sering dipakai bergantian dalam percakapan umum. Tata cara sholatnya sama persis — perbedaannya hanya pada bacaan: Sholat Kusuf (gerhana matahari) dianjurkan dibaca dengan suara pelan (sirr) karena dikerjakan siang hari, sedangkan Sholat Khusuf (gerhana bulan) dibaca nyaring (jahr) karena dikerjakan malam hari.
Lebih utama berjamaah di masjid, mengikuti contoh Rasulullah ﷺ, namun tetap sah jika dikerjakan sendirian di rumah bagi yang tidak sempat ke masjid.
Sholat Gerhana tidak diqadha (diganti di waktu lain) jika gerhananya sudah berakhir, karena sifatnya terikat pada momen kejadian gerhana itu sendiri.