Sekaten adalah upacara tradisional yang diselenggarakan keraton Yogyakarta dan Surakarta untuk memperingati kelahiran (Maulid) Nabi Muhammad ﷺ. Tradisi ini dipercaya telah ada sejak masa Kesultanan Demak sebagai salah satu media dakwah Islam di tanah Jawa.
Nama "Sekaten" diyakini berasal dari kata "syahadatain", yaitu dua kalimat syahadat, yang mencerminkan tujuan awal perayaan ini sebagai sarana mengenalkan dan mengajak masyarakat memeluk Islam melalui pendekatan budaya yang akrab bagi masyarakat Jawa saat itu. Ada pula pendapat lain yang mengaitkan namanya dengan "sakhotain" (dua kekuatan) atau "sak ati" (satu hati), meski versi syahadatain paling populer diyakini masyarakat.
Para Wali Songo, khususnya Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, dikenal piawai memanfaatkan medium budaya yang sudah dekat dengan masyarakat Jawa — seperti gamelan dan pertunjukan seni — sebagai sarana dakwah yang lebih mudah diterima, alih-alih menghapus budaya lokal secara frontal. Sekaten menjadi salah satu warisan pendekatan dakwah kultural tersebut.
Rangkaian Sekaten biasanya diisi dengan pembacaan riwayat hidup Nabi Muhammad ﷺ, pertunjukan gamelan pusaka Sekati yang dibunyikan di halaman masjid agung selama sepekan, pasar malam yang meriah, hingga puncaknya berupa Grebeg Maulud dengan arak-arakan gunungan hasil bumi.
Tradisi ini menjadi contoh bagaimana dakwah Islam di Nusantara berpadu harmonis dengan kearifan budaya lokal, membuktikan bahwa penyebaran Islam di tanah Jawa berlangsung secara damai dan akulturatif, bukan dengan menghapus identitas budaya masyarakat setempat, melainkan mengisinya dengan nilai-nilai keislaman.