Tradisi memperingati hari ke-7, ke-40, ke-100, hingga ke-1000 setelah seseorang wafat telah berkembang luas di kalangan Muslim Nusantara, khususnya dalam tradisi Nahdlatul Ulama. Peringatan ini umumnya diisi dengan pembacaan tahlil dan doa bersama untuk mendoakan yang telah wafat.
Tradisi peringatan berkala ini diyakini berakar dari akulturasi budaya lokal Nusantara β yang sebelumnya sudah mengenal tradisi selamatan pada hari-hari tertentu pasca-kematian β dengan ajaran Islam yang dibawa para penyebar agama. Alih-alih dihapus, tradisi lokal ini "diislamkan" dengan mengisi acaranya dengan bacaan tahlil, doa, dan sedekah, alih-alih ritual yang bertentangan dengan akidah.
Secara syariat, inti dari peringatan ini adalah mendoakan mayit, bukan angka harinya itu sendiri. Pemilihan hari ke-7, ke-40, ke-100, dan seterusnya lebih merupakan kesepakatan budaya yang memudahkan keluarga mengumpulkan kerabat dan tetangga untuk berdoa bersama secara berkala, sekaligus menjadi pengingat berjenjang bagi keluarga yang ditinggalkan untuk terus mendoakan, bukan berhenti setelah pemakaman saja.
Susunan bacaan tahlilan pada peringatan-peringatan ini pada dasarnya sama dengan tahlilan pada umumnya β terdiri dari kalimat tahlil, surat-surat pendek, dan doa untuk mayit β yang selengkapnya dapat dibaca di halaman Tahlil Berkah App. Biasanya diakhiri dengan hidangan sederhana sebagai bentuk sedekah atas nama yang telah wafat.
Yang perlu dijaga adalah kesederhanaan dalam pelaksanaannya, agar tidak memberatkan keluarga yang berduka dengan biaya jamuan yang berlebihan. Sejumlah ulama mengingatkan bahwa esensi mendoakan mayit jauh lebih utama dibanding kemewahan acara β bahkan sebagian menganjurkan agar tetangga dan kerabatlah yang membantu meringankan beban keluarga berduka, bukan sebaliknya.