Istilah “tolak bala” akrab di telinga masyarakat Indonesia, terutama menjelang musim tertentu atau setelah terjadi musibah beruntun. Dalam Islam, upaya memohon perlindungan dari keburukan memang diajarkan — yang perlu diluruskan adalah caranya.
Para ulama menyebut sedekah sebagai salah satu sarana paling dianjurkan untuk menolak bala. Selain nilainya sebagai ibadah, sedekah meringankan beban orang lain — sehingga kebaikannya berlapis: pahala bagi pemberi, manfaat nyata bagi penerima.
Sedekah tidak harus besar dan tidak harus menunggu momen tertentu. Menyisihkan sebagian rezeki secara rutin lebih bernilai daripada memberi banyak sekali lalu berhenti.
Al-Qur’an mengaitkan istighfar dengan turunnya rahmat dan kelapangan. Dalam QS. Nuh (71): 10-12 disebutkan bahwa memohon ampun kepada Allah mendatangkan hujan yang lebat, tambahan harta dan keturunan, serta kebun dan sungai. Memperbanyak istighfar adalah amalan yang ringan namun berdampak luas.
Bacaan istighfar dan keutamaannya dibahas lebih lanjut di artikel keutamaan istighfar.
Bacaan lengkapnya tersedia di menu Doa Harian aplikasi ini.
Rangkaian dzikir pagi dan petang merupakan bentuk penjagaan harian yang diajarkan langsung dalam sunnah. Amalan ini dibahas di artikel keutamaan dzikir pagi dan petang.
Riwayat masyhur menyebutkan bahwa menyambung tali kekerabatan menjadi sebab dilapangkannya rezeki dan dipanjangkannya usia. Karena itu, memperbaiki hubungan yang renggang dengan keluarga termasuk ikhtiar menolak keburukan yang sering terlupakan.
Sebagian praktik tolak bala di masyarakat perlu ditinjau ulang. Yang menjadi persoalan bukan tradisinya, melainkan keyakinan yang menyertainya:
Adapun selamatan atau doa bersama yang isinya pembacaan Al-Qur’an, dzikir, sedekah makanan, dan permohonan kepada Allah, oleh ulama Nusantara umumnya dipandang baik — sebab yang dituju tetap Allah, sementara acaranya menjadi sarana berkumpul dan bersedekah.
Perlu diingat bahwa musibah tidak selalu berarti azab. Ia bisa berupa ujian yang mengangkat derajat, penghapus dosa, atau teguran agar seseorang kembali. Karena itu, ikhtiar menolak bala berjalan beriringan dengan kesiapan menerima takdir dengan sabar.
Ulama Nusantara umumnya membolehkan selama isinya berupa pembacaan Al-Qur’an, dzikir, doa kepada Allah, dan sedekah makanan. Yang perlu dihindari adalah keyakinan bahwa acara atau benda tertentu yang menolak bala, bukan Allah.
Memakai benda dengan keyakinan bahwa benda itu sendiri yang menolak bahaya termasuk yang dilarang, karena menggeser ketergantungan dari Allah. Perlindungan yang diajarkan adalah lewat doa, dzikir, sedekah, dan amal saleh.
Ada, yaitu qunut nazilah yang dibaca pada sholat fardhu selama musibah berlangsung. Penjelasannya ada di artikel doa qunut. Selain itu dianjurkan memperbanyak istighfar, sedekah, dan doa memohon keselamatan.