Doa Awal dan Akhir Tahun Hijriah

Doa · 2026-08-04
Doa Awal dan Akhir Tahun Hijriah
Foto: Alexey Chudin (Pexels)

Pergantian tahun Hijriah pada 1 Muharram menjadi momen refleksi bagi sebagian masyarakat Muslim Indonesia, khususnya di lingkungan pesantren dan Nahdlatul Ulama.

Bukan Hadits Nabi, tapi Doa yang Diajarkan Ulama

Perlu disampaikan dengan jujur: doa akhir dan awal tahun yang populer di Indonesia bukan hadits marfu' dari Rasulullah ﷺ, melainkan doa yang disusun dan diajarkan turun-temurun di kalangan ulama Nusantara sebagai wirid — statusnya sama seperti banyak doa ma'tsurah lain yang bersumber dari kesalihan ulama, bukan riwayat langsung dari Nabi ﷺ.

Kebiasaan di Kalangan Pesantren

Doa akhir tahun umumnya dibaca tiga kali menjelang Maghrib di penghujung bulan Dzulhijjah, dan doa awal tahun dibaca tiga kali setelah Maghrib di awal Muharram, sebagai bagian dari wirid rutin yang diwariskan dari generasi ke generasi di pesantren.

Semangat Muhasabah di Baliknya

Inti dari kebiasaan ini bukan pada teks doa tertentu, melainkan semangat muhasabah (introspeksi diri) — merenungi amal setahun yang lalu, memohon ampun atas kesalahan, dan menata niat lebih baik di tahun yang baru. Semangat ini sejalan dengan anjuran umum dalam Islam untuk senantiasa mengevaluasi diri, sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Hasyr ayat 18.

Alternatif yang Lebih Utama

Karena statusnya bukan hadits, tidak ada kewajiban membaca doa dengan redaksi tertentu. Yang lebih penting adalah kandungan muhasabahnya: memperbanyak istighfar, bersyukur atas nikmat setahun yang lalu, dan berdoa dengan bahasa sendiri memohon kebaikan di tahun mendatang.

Baca juga keutamaan puasa Asyura yang juga jatuh di bulan Muharram.

Tanya Jawab

Apakah doa akhir dan awal tahun ini termasuk hadits Nabi ﷺ?

Bukan. Doa ini adalah wirid yang disusun dan diajarkan turun-temurun di kalangan ulama pesantren, bukan hadits marfu' dari Rasulullah ﷺ — statusnya sama seperti banyak doa ma'tsurah lain yang bersumber dari kesalihan ulama, bukan riwayat langsung Nabi.

Kalau tidak hafal doanya, apakah boleh berdoa dengan bahasa sendiri?

Boleh dan justru dianjurkan, karena yang terpenting adalah kandungan muhasabahnya, bukan redaksi doa yang baku.