Doa adalah inti ibadah — bentuk pengakuan bahwa manusia lemah dan hanya Allah tempat bergantung. Meski Allah Maha Mendengar tanpa syarat, para ulama merumuskan sejumlah adab yang menjadikan doa lebih layak diharapkan pengabulannya.
Adab Sebelum dan Saat Berdoa
- Menghadirkan hati. Doa yang diucapkan sambil lalu berbeda dengan doa yang keluar dari kesadaran penuh akan kebutuhan kepada Allah.
- Memulai dengan pujian dan shalawat. Para ulama menganjurkan membuka doa dengan hamdalah dan shalawat kepada Nabi ﷺ, lalu menutupnya dengan cara yang sama.
- Dalam keadaan suci dan menghadap kiblat. Bukan syarat sah, tetapi menambah kesempurnaan adab.
- Mengangkat kedua tangan. Praktik yang dicontohkan dalam banyak riwayat, lalu mengusapkan tangan ke wajah setelah selesai.
- Memilih kata yang jelas dan tidak berlebihan. Meminta secara rinci dibolehkan, namun tidak perlu dibuat berbunga-bunga.
- Bersungguh-sungguh dan tidak tergesa. Menyertakan kata “jika Engkau berkenan” dinilai kurang tepat, karena Allah tidak dipaksa oleh siapa pun dan tidak berat bagi-Nya mengabulkan.
- Mengulang-ulang. Doa yang diulang menunjukkan kesungguhan, bukan kekurangajaran.
Waktu dan Keadaan yang Dianjurkan
- Sepertiga malam terakhir — dibahas di artikel doa sepertiga malam terakhir.
- Antara adzan dan iqamah.
- Ketika sujud dalam sholat.
- Saat berpuasa, terutama menjelang berbuka.
- Hari Jumat, khususnya pada waktu yang dirahasiakan di penghujung hari.
- Ketika turun hujan — lihat artikel doa ketika turun hujan.
- Saat safar, dan doa orang tua untuk anaknya.
Sebab Doa Terasa Tertahan
Para ulama menyebut beberapa hal yang perlu dievaluasi ketika doa terasa lama tidak berbuah:
- Makanan dan penghasilan yang tidak halal. Riwayat masyhur menyebut orang yang bermunajat sementara makanan dan pakaiannya haram, lalu dipertanyakan bagaimana doanya akan dikabulkan.
- Tergesa-gesa lalu berhenti berdoa. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa doa seorang hamba dikabulkan selama ia tidak terburu-buru dan berkata “aku sudah berdoa tetapi tidak dikabulkan”.
- Meminta sesuatu yang berisi dosa atau memutus hubungan kekerabatan.
- Meninggalkan amar makruf sementara kemungkaran dibiarkan berlangsung.
Tiga Bentuk Pengabulan
Sebuah riwayat menjelaskan bahwa doa seorang muslim yang tidak mengandung dosa akan dijawab dengan salah satu dari tiga cara: dikabulkan sesuai permintaan, disimpan sebagai tabungan pahala di akhirat, atau dipakai untuk menolak keburukan yang setara. Karena itu, tidak ada doa yang benar-benar sia-sia — yang berbeda hanyalah bentuk jawabannya.
Berdoa dengan Bahasa Sendiri
Doa dengan lafadz yang diajarkan Nabi ﷺ tentu lebih utama. Namun berdoa memakai bahasa Indonesia atau bahasa daerah dibolehkan dan tetap didengar Allah, terutama di luar sholat. Yang terpenting adalah kejujuran hati, bukan keindahan susunan kata.
Tanya Jawab
Apakah doa harus memakai bahasa Arab?
Tidak harus. Doa dengan lafadz yang diajarkan Nabi ﷺ memang lebih utama, tetapi berdoa dengan bahasa sendiri dibolehkan, khususnya di luar sholat. Yang utama adalah kesungguhan hati.
Apakah mengusap wajah setelah berdoa dianjurkan?
Mayoritas ulama menganjurkannya berdasarkan sejumlah riwayat, khususnya untuk doa di luar sholat. Sebagian ulama memandang riwayatnya kurang kuat, sehingga tidak melakukannya juga tidak masalah.
Mengapa doa saya belum juga dikabulkan?
Belum terwujudnya permintaan tidak berarti doa ditolak. Doa dapat dijawab dengan disimpan sebagai pahala di akhirat atau dipakai menolak keburukan yang setara. Yang perlu dilakukan adalah terus berdoa sambil memperbaiki sumber penghasilan dan menjauhi maksiat.