Walisongo adalah sebutan bagi sembilan tokoh yang berperan besar menyebarkan Islam di Tanah Jawa, terutama sekitar abad ke-15 hingga ke-16. Kata songo dalam bahasa Jawa berarti sembilan.
Mereka tidak hidup pada masa yang persis sama, melainkan berjenjang antargenerasi dan sebagian terhubung oleh hubungan guru-murid maupun kekerabatan.
Sembilan Wali dan Wilayah Dakwahnya
- Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) — dipandang sebagai perintis, berdakwah di Gresik dengan pendekatan melalui perdagangan dan pertanian.
- Sunan Ampel (Raden Rahmat) — berdakwah di Surabaya, mendirikan pesantren Ampel Denta yang menjadi pusat pendidikan awal dan melahirkan banyak murid.
- Sunan Bonang (Raden Makhdum Ibrahim) — putra Sunan Ampel, berdakwah di Tuban, dikenal memanfaatkan gamelan dan tembang sebagai sarana dakwah.
- Sunan Drajat (Raden Qasim) — juga putra Sunan Ampel, berdakwah di Lamongan dengan penekanan kuat pada kepedulian sosial dan santunan kepada kaum lemah.
- Sunan Kudus (Ja’far Shadiq) — berdakwah di Kudus, dikenal karena pendekatannya yang sangat menghormati kepekaan masyarakat setempat.
- Sunan Giri (Raden Paku) — berdakwah di Gresik, mendirikan pusat pendidikan di Giri Kedaton yang pengaruhnya meluas hingga luar Jawa.
- Sunan Kalijaga (Raden Said) — wali yang paling lekat dengan budaya Jawa, memanfaatkan wayang, tembang, dan perayaan rakyat sebagai sarana dakwah.
- Sunan Muria (Raden Umar Said) — berdakwah di lereng Gunung Muria, menyasar masyarakat pedesaan dan pegunungan.
- Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) — berdakwah di Cirebon, memadukan peran dakwah dengan kepemimpinan pemerintahan.
Metode Dakwah Kultural
Ciri paling menonjol dari dakwah Walisongo adalah pendekatannya yang bertahap dan tidak berbenturan dengan budaya setempat. Beberapa polanya:
- Mengisi ulang tradisi yang sudah ada. Upacara yang telah berjalan tidak dihapus, melainkan diganti isinya dengan pembacaan Al-Qur’an, dzikir, dan doa kepada Allah. Pola ini tampak pada sekaten, nyadran, dan sedekah bumi.
- Memakai kesenian rakyat. Wayang, gamelan, dan tembang dipakai sebagai media penyampaian ajaran.
- Mendirikan pesantren. Lembaga pendidikan menjadi tulang punggung kaderisasi yang bertahan lintas generasi.
- Merangkul penguasa. Kedekatan dengan pemimpin setempat mempercepat penerimaan masyarakat luas.
- Keteladanan akhlak. Perdagangan yang jujur dan perilaku sehari-hari menjadi bukti nyata ajaran yang disampaikan.
Warisan yang Masih Terasa
Wajah Islam di Indonesia yang umumnya damai, luwes terhadap budaya lokal, dan bermadzhab Syafi’i banyak berakar pada pendekatan ini. Tradisi tahlilan, selamatan, dan peringatan haul yang hidup hingga kini merupakan kelanjutan dari cara dakwah yang mereka rintis.
Catatan tentang Sumber Sejarah
Perlu disampaikan secara jujur bahwa penulisan sejarah Walisongo bertumpu pada campuran sumber: babad, serat, tradisi lisan, dan sebagian catatan yang lebih dapat diverifikasi. Karena itu, terdapat perbedaan versi mengenai silsilah, tahun, bahkan nama yang termasuk dalam sembilan wali.
Perbedaan semacam ini wajar dalam kajian sejarah. Yang lebih penting untuk diambil adalah keteladanan metode dakwahnya, bukan perdebatan atas rincian yang memang sulit dipastikan.
Tanya Jawab
Apakah Walisongo benar-benar berjumlah sembilan orang?
Sembilan adalah jumlah yang paling masyhur dan disepakati dalam tradisi Jawa. Beberapa versi menyebut nama yang sedikit berbeda, karena penyusunan daftarnya bertumpu pada babad dan tradisi lisan yang beragam.
Apakah Walisongo hidup pada masa yang sama?
Tidak seluruhnya. Mereka hidup berjenjang antargenerasi sekitar abad ke-15 hingga ke-16, dengan sebagian terhubung sebagai guru dan murid atau lewat hubungan kekerabatan.
Bolehkah berziarah ke makam Walisongo?
Boleh, dan ziarah kubur memang dianjurkan agar mengingat kematian serta mendoakan yang telah wafat. Yang perlu dijaga adalah agar doa tetap ditujukan kepada Allah, bukan meminta kepada yang berada di dalam kubur.