Isra Mi'raj adalah peristiwa perjalanan malam Rasulullah ﷺ yang menjadi titik balik sejarah dakwah Islam. Dari peristiwa inilah perintah sholat lima waktu diturunkan — satu-satunya syariat yang perintahnya diterima langsung tanpa perantara.
Isra adalah perjalanan malam dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis. Peristiwa ini disebut secara tegas dalam QS. Al-Isra ayat 1, yang membuka dengan pujian kepada Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam.
Mi'raj adalah kelanjutannya, yaitu naiknya Rasulullah ﷺ dari Masjidil Aqsa menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, batas yang tidak terlampaui oleh makhluk mana pun.
Peristiwa ini terjadi tidak lama setelah masa yang dikenal sebagai 'Amul Huzni atau tahun kesedihan, ketika Rasulullah ﷺ kehilangan dua penopang utamanya — istri beliau Khadijah RA dan paman beliau Abu Thalib — sementara tekanan kaum Quraisy semakin berat. Isra Mi'raj datang sebagai penguatan pada titik terberat perjuangan beliau.
Inti dari perjalanan ini adalah diterimanya perintah sholat. Dalam riwayat yang masyhur disebutkan bahwa perintah awalnya lima puluh kali sehari semalam, lalu atas saran Nabi Musa AS, Rasulullah ﷺ berulang kali memohon keringanan hingga akhirnya ditetapkan lima waktu — namun dengan nilai pahala sebanding lima puluh.
Di Indonesia, peringatan Isra Mi'raj lazim digelar setiap 27 Rajab. Perlu dicatat bahwa para ulama sebenarnya berbeda pendapat mengenai tanggal pastinya — sebagian menyebut bulan Rajab, sebagian menyebut Rabiul Awal atau Ramadhan. Yang disepakati adalah peristiwanya benar terjadi, sementara penanggalan 27 Rajab merupakan pendapat yang paling populer dan dipakai sebagai momentum peringatan.
Ketika Rasulullah ﷺ menceritakan peristiwa ini, banyak orang Quraisy mendustakannya karena tidak masuk akal menurut ukuran perjalanan saat itu. Abu Bakar RA justru langsung membenarkannya tanpa ragu, dan karena itulah ia digelari Ash-Shiddiq — yang membenarkan.
Cara terbaik memperingati Isra Mi'raj adalah membenahi kualitas sholat. Tata cara lengkapnya tersedia di Panduan Wudu & Sholat, dan keutamaannya dibahas di artikel keutamaan sholat berjamaah.
Mayoritas ulama Ahlussunnah berpendapat peristiwa ini terjadi dengan jasad dan ruh sekaligus dalam keadaan sadar, bukan sekadar mimpi. Justru karena itulah kaum Quraisy mengingkarinya, sebab jika hanya mimpi tidak akan menimbulkan perdebatan.
Tidak ada sholat atau puasa khusus yang bersumber dari hadits sahih untuk malam tersebut. Peringatan Isra Mi'raj di Indonesia umumnya berupa pengajian dan ceramah untuk mengingat kembali peristiwanya, dan hal ini dibolehkan selama tidak diyakini sebagai ibadah wajib.
Dalam riwayat disebutkan bahwa keringanan itu merupakan rahmat Allah atas kelemahan umat manusia. Meski jumlahnya menjadi lima waktu, nilai pahalanya tetap dilipatkan sebanding lima puluh kali.