Mengenal Metode Hisab dan Rukyat dalam Penentuan Awal Bulan

Kabar ยท 2026-07-20
Mengenal Metode Hisab dan Rukyat dalam Penentuan Awal Bulan
Foto: Martin Adams

Penentuan awal bulan dalam kalender Hijriah, termasuk awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, umumnya menggunakan dua pendekatan: hisab dan rukyat. Keduanya memiliki dasar keilmuan masing-masing dan telah lama menjadi bagian dari khazanah keilmuan Islam.

Metode Hisab

Hisab adalah metode perhitungan astronomis untuk memprediksi posisi bulan dan matahari, sehingga awal bulan bisa ditentukan lebih awal melalui kalkulasi ilmiah yang presisi. Metode ini banyak dipakai organisasi seperti Muhammadiyah, dengan kriteria tertentu (misalnya wujudul hilal) yang menentukan apakah bulan baru sudah bisa ditetapkan meski hilal belum tentu terlihat mata secara kasat.

Metode Rukyat

Rukyat adalah metode pengamatan langsung terhadap hilal (bulan sabit muda) di ufuk barat setelah matahari terbenam pada akhir bulan. Metode ini mengharuskan hilal benar-benar terlihat oleh pengamat, baik dengan mata telanjang maupun alat bantu optik, di lokasi-lokasi pemantauan yang telah ditentukan.

Sidang Isbat di Indonesia

Di Indonesia, penentuan awal bulan Hijriah biasanya dilakukan oleh Kementerian Agama melalui sidang isbat, yang mempertimbangkan hasil hisab sekaligus laporan rukyat dari berbagai titik pemantauan di seluruh negeri. Sidang ini melibatkan ormas Islam, ahli falak, dan perwakilan pemerintah untuk mencapai keputusan bersama mengenai awal bulan.

Menyikapi Perbedaan Penetapan

Kadang kala, perbedaan metode dan kriteria antar-ormas menyebabkan perbedaan penetapan tanggal, namun hal ini dipandang sebagai bagian dari khazanah ijtihad yang perlu disikapi dengan toleransi. Perbedaan semacam ini sudah ada sejak lama dalam sejarah Islam dan tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan, melainkan dihormati sebagai hasil dari metodologi keilmuan yang berbeda namun sama-sama memiliki dasar yang kuat.