Keutamaan Silaturahmi dalam Islam

Fadhilah · 2026-05-10
Keutamaan Silaturahmi dalam Islam

Silaturahmi — menyambung tali persaudaraan dengan keluarga, kerabat, tetangga, hingga sesama muslim secara luas — adalah salah satu ajaran yang sangat ditekankan dalam Islam. Kata "silaturahmi" sendiri berasal dari bahasa Arab shilah (menyambung) dan rahim (kekerabatan/kasih sayang).

Dalil Keutamaan Silaturahmi

Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi" (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menjadi salah satu motivasi utama umat Islam untuk terus menjaga hubungan baik dengan keluarga dan kerabat, tidak memutuskannya karena kesibukan atau perselisihan.

Silaturahmi sebagai Tanda Keimanan

Rasulullah ﷺ juga bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahmi" (HR. Bukhari dan Muslim) — menempatkan silaturahmi sebagai cerminan langsung dari keimanan seseorang, bukan sekadar tradisi sosial semata.

Larangan Memutus Silaturahmi

Sebaliknya, Islam sangat keras memperingatkan bahaya memutus silaturahmi. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang yang memutus silaturahmi tidak akan masuk surga (HR. Bukhari dan Muslim) — sebuah peringatan tegas yang menunjukkan betapa besar dosa memutus hubungan kekerabatan tanpa alasan syar'i.

Bentuk-Bentuk Silaturahmi di Era Modern

Silaturahmi tidak selalu berarti kunjungan fisik. Di era modern, silaturahmi bisa dijaga lewat telepon, pesan singkat, video call, hingga sekadar menanyakan kabar lewat media sosial — selama niatnya tulus menjaga hubungan baik dan saling peduli. Namun, kunjungan langsung tetap memiliki keutamaan tersendiri, terutama saat momen seperti Lebaran, yang di Indonesia dikenal luas sebagai tradisi halal bihalal.

Menyambung Silaturahmi yang Terputus

Islam mengajarkan bahwa keutamaan sebenarnya bukan sekadar menjaga hubungan dengan yang sudah baik, melainkan justru menyambung kembali hubungan dengan yang sempat renggang atau terputus. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang yang benar-benar menyambung silaturahmi bukanlah yang membalas kebaikan dengan kebaikan semata, melainkan yang tetap menyambung hubungan meski pihak lain memutuskannya (HR. Bukhari) — sebuah standar yang tinggi namun mencerminkan keluasan akhlak yang diajarkan Islam.

Tanya Jawab

Bagaimana jika kerabat yang dituju sulit dihubungi atau jauh?

Silaturahmi tetap bisa dijaga lewat komunikasi jarak jauh seperti telepon atau pesan, yang terpenting adalah niat dan usaha untuk tetap menjaga hubungan, bukan semata-mata jarak fisiknya.

Apakah silaturahmi hanya berlaku untuk keluarga kandung?

Silaturahmi paling utama memang untuk kerabat dan keluarga, namun maknanya bisa diperluas mencakup tetangga, teman, dan sesama muslim yang perlu dijaga hubungan baiknya.