
Masyarakat sering tergoda membicarakan kesalahan atau aib orang lain, padahal Islam mengajarkan sebaliknya — menutup aib sesama justru menjadi salah satu amalan yang dijanjikan balasan besar.
Abu Hurairah RA meriwayatkan sabda Nabi ﷺ, "Barangsiapa menutup (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat" (HR. Muslim) — salah satu hadits paling populer tentang adab bermasyarakat dalam Islam.
QS Al-Hujurat ayat 12 melarang berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus), dan menggunjing (ghibah) — bahkan diumpamakan seperti memakan daging saudara sendiri yang telah mati, sebuah perumpamaan yang menggambarkan betapa Islam memandang serius perbuatan ini.
Ulama menjelaskan ada pengecualian dalam kondisi tertentu, seperti melaporkan kezaliman untuk meminta pertolongan, memberi peringatan untuk mencegah bahaya lebih besar (misalnya soal calon pasangan atau rekan bisnis), atau proses hukum yang sah — bukan sekadar membicarakan aib demi hiburan atau menjatuhkan martabat orang lain.
Penting dibedakan: menutup aib artinya tidak menyebarluaskan kesalahan seseorang ke publik, bukan berarti mendiamkan atau membiarkan kemungkaran terus terjadi. Menasihati secara pribadi dan empat mata tetap dianjurkan sebagai bentuk kepedulian yang benar.
Boleh dan dianjurkan menasihati secara pribadi dan baik-baik. Yang tidak dianjurkan adalah menyebarkan kesalahan tersebut ke orang lain yang tidak berkepentingan.
Dalam kasus yang menyangkut hak orang lain atau kezaliman, melaporkannya kepada pihak berwenang untuk penyelesaian yang adil termasuk pengecualian yang dibolehkan, bukan ghibah yang tercela.