
Istighfar adalah memohon ampun kepada Allah SWT, sebuah amalan ringan yang dianjurkan diperbanyak setiap saat — bukan hanya setelah berbuat dosa besar, melainkan menjadi kebiasaan harian setiap muslim.
QS Nuh ayat 10-12 menceritakan perintah Nabi Nuh AS kepada kaumnya untuk beristighfar, dengan dijanjikan diturunkan hujan lebat, ditambahkan harta dan anak keturunan, serta diberikan kebun dan sungai — menunjukkan istighfar membuka pintu keberkahan yang luas.
Meski terjaga dari dosa besar (maksum), Rasulullah ﷺ tetap rutin beristighfar. Abu Hurairah RA meriwayatkan sabda Nabi ﷺ, "Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali" (HR. Bukhari). Riwayat lain dari Al-Agharr Al-Muzani menyebut Nabi ﷺ beristighfar hingga seratus kali sehari (HR. Muslim) — menunjukkan istighfar adalah kebiasaan harian, bukan amalan sesekali.
Mulai dari yang paling sederhana, "Astaghfirullah" (aku memohon ampun kepada Allah), hingga Sayyidul Istighfar (induk istighfar) yang diajarkan Nabi ﷺ sebagai bacaan paling utama, dianjurkan dibaca pagi dan petang.
Di antaranya sepertiga malam terakhir — QS Adz-Dzariyat ayat 18 menyebut orang-orang bertakwa beristighfar di waktu sahur — juga setelah sholat fardhu, dan di setiap kesempatan sebagai dzikir harian.
Bantu istiqomah berdzikir dan beristighfar dengan Tasbih Digital Berkah App.
Tidak ada batas maksimal — semakin banyak semakin baik. Riwayat menyebut Nabi ﷺ beristighfar lebih dari tujuh puluh hingga seratus kali sehari sebagai teladan, meski beliau maksum dari dosa besar.
Istighfar adalah permohonan ampun secara lisan dan hati, sedangkan taubat mencakup istighfar ditambah syarat lain: berhenti dari dosa, menyesal, dan bertekad tidak mengulanginya.