Sepuluh malam terakhir Ramadhan dikenal sebagai puncak keberkahan bulan suci ini. Rasulullah ﷺ diriwayatkan meningkatkan intensitas ibadahnya secara signifikan pada malam-malam ini, termasuk dengan menghidupkan malam-malamnya dan membangunkan keluarganya untuk turut beribadah (HR. Bukhari dan Muslim).
Di antara malam-malam ini terdapat satu malam istimewa yang disebut Lailatul Qadar — malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan ibadah, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Qadr. Pada malam ini, Al-Qur'an pertama kali diturunkan, dan para malaikat serta Jibril turun ke bumi membawa keberkahan dan kedamaian hingga terbit fajar.
Malam ini diyakini berada pada salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29, meski waktu pastinya dirahasiakan Allah SWT agar umat terus bersemangat beribadah di sepanjang sepuluh malam tersebut, bukan hanya berfokus pada satu malam tertentu. Sebagian riwayat menyebutkan tanda-tandanya seperti udara yang terasa tenang, tidak terlalu panas maupun dingin, dan matahari terbit keesokan harinya tanpa sinar yang menyilaukan.
Untuk mengejar keutamaan ini, dianjurkan memperbanyak i'tikaf di masjid, sholat malam, membaca Al-Qur'an, dzikir, dan doa — terutama doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ untuk dibaca pada malam-malam tersebut, memohon ampunan Allah SWT: "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni" — "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, mencintai ampunan, maka ampunilah aku" (HR. Tirmidzi).
Momen ini menjadi kesempatan terbaik untuk menutup Ramadhan dengan amalan terbaik, sebagaimana juga dijelaskan pada artikel I'tikaf di Bulan Ramadhan pada Berkah App. Alih-alih justru mengendur menjelang akhir Ramadhan karena sibuk mempersiapkan Lebaran, umat Islam dianjurkan justru meningkatkan kesungguhan ibadah di hari-hari terakhir ini.